Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bahan Kultum: Cerita Tentang Seorang Pemuda Sholeh

 

sumber azharfathur on flickr.com

Pada kesempatan kali ini saya akan memposting tulisan tentang bahan kultum yang bisa teman-teman pergunakan untuk memberikan kuliah atau ceramah pada saat saat tertentu. 

Kuliah Tujuh Menit atau yang disingkat menjadi Kultum adalah ceramah atau tausiyah yang disampaikan dalam waktu relatif singkat. Meski tidak tepat tujuh menit, paling tidak ketika isi ceramah disampaikan, kira-kira membutuhkan waktu sekitar itu. 

Karena terbatasnya waktu, maka isi ceramah yang disampaikan pun relatif singkat. Berikut ini saya tuliskan salah satu contoh bahan untuk Kuliah Tujuh Menit.

Kisah Seorang Sahabat Dokter

Seorang dokter spesialis yang tinggal di Riyadh Arab Saudi yang bernama Dr. Khalid Al Jubair pada suatu waktu pernah menceritakan tentang dirinya dan temannya. 

Ceritanya dimulai ketika beliau ini masih menyandang status sebagai mahasiswa yang saat itu memiliki seorang teman yang juga sedang menempuh pendidikan di Akademi Militer.
 
Teman sang dokter ini bisa dibilang memiliki banyak kelebihan dibanding rekan-rekannya yang lain. Sholat wajib dan sholat qiyamul lail tidak pernah dia tinggalkan. Perangainya juga baik dan menyenangkan. Sewaktu kelulusan, pemuda ini meraih nilai memuaskan. Tentu saja keberhasilan ini sungguh membuatnya senang.
 
Tapi siapa yang bisa menebak jalannya takdir seseorang selain Allah Swt yang mengatur kehidupan ini? Mula musibah bermula ketika pemuda ini menderita influenza. Penyakit yang dianggap orang umum sebagai penyakit ringan. Karena influenza ini menyebabkan kekuatan tubuhnya melemah sehingga banyak penyakit yang mendatanginya.
 
Akhirnya dia divonis mengalami komplikasi. Efeknya adalah terjadi kelumpuhan pada tubuhnya. Sehari-hari dia bergelut dengan anggota tubuhnya yang tidak dapat digerakkan. 

Semua dokter yang menangani menyatakan bahwa kemungkinan pemuda ini bisa sembuh hanya 10%. Tidak lebih. Vonis ini diungkapkan kepada Dokter Kholid yang selain sebagai dokter ahli juga menjadi sahabat pemuda itu.
 
Di lain waktu, dokter Kholid menyempatkan diri menjenguk pemuda itu. Begitu bertemu dengan si pemuda itu, wajah sedih dan duka sepertinya lenyap, yang ditemuinya justru seorang pemuda yang bahagia dengan kondisinya. Kebahagiaan ini karena keikhlasannya menerima takdirnya.
 
Dokter Kholid mengucapkan, ”Alhamdulillah, keadaan saya sehat wal afiat. Semoga Allah Swt lekas memberikan kesembuhan kepadamu, ya”.

Didoakan seperti ini, pemuda itu menjawab, “Terimakasih atas doanya. Mungkin inilah cara Allah Swt menghukum saya karena lalai menghafal Quran. Dengan sakit ini, Allah memerintahkan agar saya lebih fokus menghafal Quran. Inilah nikmat yang tiada terkira”.
 
Mendengar jawaban seperti ini, dokter Kholid terpana. Sungguh dia tidak membayangkan akan meluncur jawaban itu dari seorang pemuda yang sedang diuji demikian hebat dengan penyakitnya. Ini adalah hal baru yang menyentakkan dan membuatnya merasa tidak ada apa-apanya dibanding pemuda itu.
 
Beliau tiba-tiba teringat akan hadist Nabi yang berbunyi: ”Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Jika diberi kebahagiaan, dia bersyukur. Jika diberi musibah, dia bersabar. Maka hal itu baik baginya.” (HR. Muslim).

Sabar dan Syukur, Kunci Hidup Indah

Bahan kultum kembali dilanjutkan. Setelah pertemuan itu, beberapa minggu berikutnya, Dokter Kholid menjenguknya lagi. Pada saat itu, saudara pemuda yang mendampinginya memerintahkan untuk mencoba menggerakkan anggota tubuhnya. Apa jawab pemuda itu?
 
“Betapa aku malu kepada Allah Swt jika terburu-buru ingin sembuh. Apabila Allah Swt menghendaki memberikan kesembuhan segera kepada, aku bersyukur. Tapi jika Allah Swt menunda kesembuhanku semata-mata agar langkah kakiku tidak menuju ke tempat maksiat, aku juga bersyukur. Allah Swt yang maha mengetahui atas apa-apa yang terbaik bagiku”
 
Dokter Kholid merasa hatinya bergetar mendengar jawaban sahabatnya itu. Sejak pertemuan itu, dokter Kholid tidak berjumpa dengan pemuda itu. Beliau harus menempuh pendidikan lagi di luar kota dalam waktu yang lama. 

Setelah beberapa bulan, beliau kembali lagi dan hal pertama yang diingatnya adalah temannya itu. Sebelum berkunjung, sudah terbesit dalam hatinya bahwa paling yang ditemuinya nanti adalah seorang pemuda yang masih lemah fisiknya dan membuatnya harus digotong jika keluar kamar.
 
Begitu tiba di RS, ternyata pemuda itu sudah dipindah ke ruangan lain. Begitu ketemu, yang didapatinya pemuda itu duduk di kursi roda. Tentu saja hal ini membuat dokter kholid senang. Rasa syukur terucap dari bibirnya.

“Alhamdulillah, saya sudah mengkhatamkan Quran” Kata pemuda itu. Untuk kesekian kalinya dokter Kholid dibuat terpana. Betapa banyak sekali pelajaran yang beliau dapatkan ketika menjenguk pasien istimewa ini.
 
Setelah pertemuan ini, dokter Kholid harus menempuh pendidikan lagi di luar kota selama 4 bulan lamanya. Selama itu pula praktis beliau tidak bertemu pemuda itu. Tapi begitu bertemu lagi, kadar imannya seolah bertambah. 

Betapa Allah Maha berkehendak. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Jangankan hanya masalah sakit, tulang-tulang yang telah hancur lebur pun bisa Dihidupkan menjadi sosok manusia yang utuh. Apa yang terjadi dengan pemuda itu?
 
Pada saat itu Dokter Kholid sedang menunaikan sholat di ruang mushola Rumah Sakit tempatnya bekerja selama ini. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memanggil namanya, ”Hai Abu Muhammad’ Teriak orang itu. Reflek, dokter Kholid langsung menoleh karena memang ‘Abu Muhammad’ itu salah satu panggilannya.
 
Betapa terkejutnya dia, yang memanggil itu adalah pemuda yang lumpuh beberapa bulan lalu dan sekarang kondisinya sudah berubah 180 derajat. Tidak nampak kalau dulu dia begitu tak berdaya. Allahu Akbar, salah satu bukti terlihat begitu nyata di depan mata. Betapa keimanan bisa menghadirkan keajaiban.
 
Seketika air mata berurai dalam pipinya. Dia menangis karena terharu. Betapa Allah telah membuat sahabatnya sembuh seperti sedia kala. Selain itu dia juga menangis karena selama ini dia banyak bersikap kufur terhadap nikmat-nikmat yang ada pada dirinya.
 
Karunia Allah tidak berhenti sampai disitu. Setelah sembuh, pemuda ini mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya atas beasiswa yang diberikan oleh Universitas Malik Su’ud, Arab Saudi.
 
Katanya kepada Dokter Kholid: “Dokter Khalid, apa yang telah saya dapatkan ini, jika saya tidak pandai mensyukurinya justru akan menjadi malapetaka bagi saya”

Waktu demi waktu berlalu. Setelah tujuh tahun tidak bertemu, pemuda ini pada suatu hari mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati mau berobat ke rumah sakit tempat dokter Kholid bekerja.
 
Pada saat itu dia sudah menjadi mayor. Untuk kesekian kalinya, Dokter Kholid meneteskan air matanya. Dia hanya bisa berdoa semoga pemuda yang sholeh itu selalu dalam jalan kebaikan dan diberi keistiqomahan dalam iman dan islam. Keyakinan dokter Kholid semakin berlipat-lipat bahwa Allah Maha mengabulkan setiap doa hamba-Nya yang bertakwa.
 
Dalam Surat Al-Baqarah Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, (karena) Allah itu senantiasa bersama orang-orang yang sabar.”
 
Demikianlah bahan kultum yang bisa disampaikan. Semoga apa yang ditulis menjadi media hadirnya manfaat yang bisa dipetik baik oleh yang menulis maupun yang membaca. Dengan membaca cerita ini, semoga bertambah pula tingkat keimanan kita. Aamiin. Sekian

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Bahan Kultum: Cerita Tentang Seorang Pemuda Sholeh"