Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hijrah - Perjalanan Mengubah Sejarah Dunia

 

sumber gambar by nasehatislami on flickr.com
 
Ada orang yang berpendapat, hijrah hanyalah peristiwa yang terjadi secara kebetulan, akibat dari pertemuan Nabi dengan sebagian orang Anshar. 

Di samping itu, hijrah Nabi dianggap sebagai sarana pelarian Nabi dan kaum muslimin untuk menyelamatkan hidup mereka dari teror dan intimidasi kaum Quraisy.
 
Pandangan-pandangan tersebut tidaklah benar. Hal itu karena peristiwa hijrah dengan keluarnya Nabi dari kota Mekkah bukan didasari oleh faktor kebetulan atau di luar perencanaan. 

Jauh sebelumnya, sejak awal pengangkatannya sebagai Nabi, beliau telah mengetahui akan diusir oleh kaumnya sendiri. Salah satunya, bersumber dari informasi yang disampaikan Waraqah bin Naufal.
 
Informasi lain tentang pengusiran itu juga beliau dapatkan dari firman Allah SWT yang menceritakan tentang apa yang telah dialami oleh para Nabi sebelumnya. 

Salah satunya adalah firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 82: “Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, ”usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini. Mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya suci" (Q.S Al-A’raf (7): 82).
 
Dengan kedua informasi tersebut, Muhammad sangat sadar bahwa suatu saat kaumnya akan mengusir dirinya dari kota Mekkah. Itu artinya, selama 13 tahun melaksanakan dakwahnya di Mekkah, beliau telah menyadari peristiwa yang diberitakan itu pasti akan terjadi.

Hijrah - Sebagai Landasan Sosial

Mempelajari agama-agama dan mengkaji masyarakat dan kebudayaan yang tertutup dan terbuka dalam sejarah umat manusia, akan dapat membuktikan kebenaran sosial-ilmiah. 

Hijrah yang dimaknai pemutusan keterikatan masyarakat terhadap tanahnya, bisa mengubah pandangan manusia terhadap alam dan mengubahnya menjadi pandangan yang luas dan menyeluruh. 

Oleh karena itu, pada dasarnya, hijrah adalah gerakan dan loncatan besar manusia. Ia meniupkan  semangat perubahan dalam pandangan masyarakat, sehingga pada gilirannya menggerakkan dan memindahkan mereka dari lingkungan yang beku menuju tangga kemajuan dan kesempurnaan. 

Di balik semua pertumbuhan budaya, tersembunyi hijrah. Ketika mengamati secara cermat Masyarakat besar dimanapun, maka ditemukan bahasa dan dongeng-dongeng berbicara tentang hijrah (migrasi).
 
Itu sebabnya, hijrah dalam Islam bukanlah merupakan realitas yang menjadi monopoli sejarah Islam belaka, tetapi merupakan landasan sosial yang paling penting. 

Apa yang dilakukan Nabi tersebut sesungguhnya adalah usaha untuk membuka ufuk baru bagi bangsa Arab yang bercorak kesukuan dan meluaskan wawasan mereka terhadap alam melalui jalur politik yang disandarkan pada hubungan pelbagai suku yang bertetangga, meluaskan daerah kekuasaanya hingga batas-batas yang paling jauh yang mungkin dicapai.
 
Nabi juga menerima dan mengirim pelbagai delegasi ke berbagai penjuru Arab dan bahkan ke balik perbatasan Iran, Romawi Timur, Mesir, Yaman, dan negeri-negeri lainnya.

 Semua petunjuk yang ada dalam kehidupan Nabi tidak saja memperjelas kebenaran itu. Bahkan, hijrah pun disebut-sebut pula dalam teks-teks hadis dan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai “hijrah dalam pemikiran dan aqidah.”

Hijrah - Kondisi Nabi Sebelum Pindah ke Madinah

Dua figur yang paling dekat dengan Rasulullah SAW telah berpulang ke rahmatullah, yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Abu Thalib sang paman, wafat pada tahun ke-10 kenabiannya. 

Selama hayatnya, Abu Thalib merupakan pembela Nabi yang gigih, sehingga orang-orang Quraisy tidak berani mengganggu atau menyakiti Nabi secara langsung. 

Abu Thalib adalah seorang yang terhormat di kalangan mereka. Setelah dia wafat, mulailah orang-orang Quraisy menghalangi dan mengganggu Nabi secara langsung. Nabi pun sangat berduka dengan kematian pamannya itu.
 
Meski membela Nabi, Abu Thalib hingga saat menghembuskan nafas terakhir tetap tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal itu karena ia ingin mempertahankan wibawa Bani Muttalib di masa masyarakat Quraisy secara keseluruhan. 

Pada tahun yang sama, wafat pula Khadijah, sang istri tercinta. Dia adalah Srikandi yang mampu meringankan penderitaan Nabi yang disebabkan oleh tindakan kasar orang-orang kafir Quraisy. Wafatnya Khadijah menimbulkan rasa sedih di hati Nabi Muhammad SAW.
 
Khadijah adalah contoh mulia seorang istri salehah yang meyakini kebenaran dakwah suaminya. Keterlibatannya dalam perjuangan Nabi benar-benar meringankan kesulitan-kesulitan yang menghalangi dakwah, sehingga Nabi berketetapan hati dan tetap bersemangat untuk meneruskan cita-citanya. 

Apa yang telah dilakukan oleh Khadijah terhadap Rasulullah SAW tidak lain adalah keteladanan tentang bagaimana peran yang dapat dimainkan oleh istri dalam membela dakwah untuk kebenaran dan kebaikan.
 
Oleh karena wafatnya dua orang pembela dakwah Nabi terjadi pada tahun yang sama, para sejarawan pun menyebut tahun ke-10 kenabian ini sebagai “amul huzni" (tahun duka cita). Kesedihan Nabi SAW amat mendalam karena salah seorang terkasih itu meninggal sebelum mengikrarkan keimanannya.

Tentu saja kesedihan itu timbul dari sikap ikhlas dan tulus dalam menjalankan dakwah, serta sebagai penghargaan sang dai untuk orang yang telah melindungi misi dakwah Islam.
 
Itulah yang menjadi alasan mengapa Nabi Muhammad SAW selalu mendoakan Abu Thalib. Tersebutlah dalam suatu riwayat, Nabi mengatakan, ”Mudah-mudahan Allah memberikan rahmat dan ampunan-Nya bagimu (Abu Thalib). Aku akan selalu memintakan ampunan untukmu, hingga Allah mencegahku”.

Hijrah - Pindah ke Habasyah

Dalam sejarah perjalanan dakwah, hampir semua Nabi pernah melakukan perjalanan dakwah. Hijrah dalam secara fisik yang pertama dalam sejarah Islam adalah ke Negeri Habasyah, perjalanan dakwah pertama itu diikuti hanya 20 orang. Di dalam rombongan itu terdapat Ruqayyah binti Muhammad dan suaminya, Utsman bin Affan.
 
Mereka berlayar secara diam-diam menuju Habasyah dengan menggunakan kapal dagang. Kaum musyrik kemudian mengirim pasukan untuk mengejar mereka. 

Namun, kaum muslimin telah berlayar jauh meninggalkan pasukan Quraisy yang baru tiba di tepi laut. Peristiwa itu terjadi di bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan.
 
Pergi ke Habasyah dilakukan kaum muslimin karena intimidasi kaum Quraisy kepada mereka semakin keras. Setelah dua bulan tinggal di Habasyah, mereka kembali ke Mekkah karena mengira intimidasi kaum Quraisy sudah berkurang.
 
Namun, perkiraan itu salah. Sebab pada kenyataanya, kaum Musyrik Mekkah justru meningkatkan terhadap kaum muslimin. Nabi Muhammad SAW lalu menyarankan para sahabatnya untuk pergi kembali ke Habasyah. Rencana keberangkatan kedua kali itu lebih berat karena pihak musuh sudah mencium rencana tersebut.
 
Hal itu menyebabkan kaum muslimin bergerak lebih cepat. Rombongan dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan sebanyak 83 pria dan 13 perempuan berhasil berangkat ke Habasyah. Mereka tiba dengan selamat. 

Tetapi tidak lama kemudian, datang utusan dari Mekkah yang dipimpin oleh Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Mereka meminta kepada Raja habasyah agar kaum Muslimin dikembalikan lagi ke Mekkah.
 
Maka, terjadilah dialog antara Ja’far bin Abu Thalib dengan utusan dari kaum musyrik Mekkah di hadapan Raja Habasyah. Kaum Muslimin berhasil meyakinkan raja Habasyah akan kebenaran kedatangan mereka, dan utusan kaum musyrik pun kembali ke Mekkah tanpa hasil. 

Rasulullah SAW kemudian mengirim surat kepada raja Habasyah dan menyerunya untuk masuk Islam. Raja habasyah pun menerima seruan tersebut. Tatkala Raja Habasyah meninggal dunia, Rasulullah SAW melakukan shalat ghaib untuknya.

Hijrah - Pindah ke Yastrib

Semakin lama, tekanan dan intimidasi yang dialami oleh Rasulullah SAW dan kaum muslimin semakin dahsyat. Itulah yang menyebabkan mereka pergi ke kota Madinah. 

Jika ke Habasyah dilakukan secara kecil-kecilan oleh sebagian sahabat, maka ke Madinah dilakukan dengan perbekalan dan persiapan yang matang dan memadai, serta dalam jumlah yang sangat massif.

Berita tentang masuk Islamnya sekelompok penduduk Yatsrib telah tersebar dan membuat orang-orang kafir Quraisy semakin meningkatkan tekanan terhadap orang-orang mukmin di Mekkah.
 
Nabi memerintahkan agar kaum mukmin agar pindah ke kota Madinah. Para sahabat segera berangkat menuju Madinah secara diam-diam agar tidak dihadang oleh musuh. 

Namun, Umar bin Khattab justru mengumumkan terlebih dahulu rencananya untuk berangkat ke negeri pengungsian kepada orang-orang kafir Mekkah. 

Ia berseru, “Siapa di antara kalian yang bersedia berpisah dengan ibunya, silakan hadang aku besok di lembah. Besok pagi saya akan pergi ke Madinah”, tidak seorangpun berani menghadang Umar.
 
Lalu, Nabi keluar dari Mekkah seperti apa adanya, layaknya kaum Muslimin yang lain dan Hijrah ke Madinah. Singkat cerita, Rasulullah SAW sampai di Madinah dengan mendapatkan sambutan yang luar biasa. Pada saat kedatangan Nabi di Madinah, mereka sudah menunggu beramai-ramai di jalanan yang akan dilalui Nabi lengkap dengan regu genderang.

Mas Pujakusuma
Mas Pujakusuma "Visi Tanpa Eksekusi Adalah Halusinasi" - Thomas Alva Edison

Posting Komentar untuk "Hijrah - Perjalanan Mengubah Sejarah Dunia"